REMBANG, Beritajateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang berencana melakukan rehabilitasi fisik terhadap Situs Perahu Kuno. Rencana ini bertujuan mendongkrak kunjungan wisata sekaligus meningkatkan kenyamanan pengunjung di destinasi tersebut.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Rembang, Isti Chomawati, mengatakan rehabilitasi akan dilakukan 2027 nanti. Menurutnya saat ini situs tersebut masih terus dirawat karena material utama berupa kayu kuno memerlukan penanganan khusus.
“Kondisi Situs Perahu Kuno Punjulharjo masih kami upayakan untuk ada perawatan di sana-sini. Pada 2027 akan ada beberapa rehabilitasi fisik, diantaranya perbaikan atap jalan masuk menuju Situs Perahu Kuno,” ujarnya, Rabu, 24 Juni 2026.
Menurut Isti, pelestarian situs tidak cukup hanya dengan pembangunan fisik. Perawatan kayu kuno membutuhkan teknik konservasi khusus, mulai dari pembersihan menggunakan bahan tertentu, pengaturan suhu dan kelembapan, hingga keterlibatan tenaga ahli dan juru pelihara.
Selain langkah preventif, ia menuturkan perbaikan terhadap bagian cagar budaya yang mulai mengalami kerusakan juga dilakukan melalui kajian ilmiah agar bentuk aslinya tetap terjaga.
Pihaknya juga menyiapkan konsep paket wisata dengan mengintegrasikan Situs Perahu Kuno dan Karangjahe Beach. Penataan akses keluar-masuk kedua destinasi itu diharapkan mampu meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung.
“Strategi ke depan agar Situs Perahu Kuno mampu menyedot wisatawan adalah dijadikan destinasi wisata terusan atau paket. Satu paket dengan KJB akan lebih bagus. Pengaturan akses jalan masuk dan keluar menuju KJB diharapkan berdampak pada peningkatan kunjungan wisatawan,” katanya.
Meski demikian, Isti mengakui pengelolaan situs masih menghadapi tantangan. Selain membutuhkan biaya dan tenaga ahli untuk konservasi, wisata sejarah juga memerlukan dukungan berbagai pihak agar semakin diminati masyarakat.
“Kami juga sadar tidak semua wisatawan tertarik pada sejarah. Karena itu dibutuhkan dukungan warga sekitar, masyarakat, dinas terkait, dan pemerintah agar situs ini semakin dikenal,” imbuhnya.
Sementara itu, Juru Pelihara Situs Perahu Kuno Punjulharjo, M. Iksan, mengungkapkan perahu tersebut ditemukan secara tidak sengaja pada 26 Juli 2008 ketika seorang warga menggali lahan yang akan dijadikan tambak garam.
“Setelah menggali sekitar satu setengah meter menggunakan cangkul ditemukan bongkahan kayu. Ketika digali lagi ternyata sebuah perahu,” ungkapnya.
Hasil penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta bersama arkeolog asal Prancis, Profesor Pierre-Yves Manguin, melalui uji karbon terhadap tali ijuk pengikat perahu menunjukkan bahwa kapal tersebut diperkirakan dibuat pada abad ke-7 Masehi, atau lebih tua dibandingkan Candi Borobudur dari abad ke-8.
Perahu sepanjang 15 meter dengan lebar 4,6 meter itu masih tergolong utuh meski sebagian kayunya telah mengalami pelapukan. Perahu dibuat menggunakan teknologi penyambungan antar papan dengan teknik papan ikat dan kupingan pengikat, serta menggunakan kayu nyatoh, kulim, dan kayu putih sebagai material utama.
Diduga, perahu tersebut dahulu digunakan sebagai alat transportasi perdagangan, sehingga menjadi bukti penting bahwa wilayah pesisir Rembang telah menjadi bagian dari jalur perdagangan maritim Nusantara sejak lebih dari 1.300 tahun silam.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















