REMBANG, Beritajateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang akan melakukan evaluasi terhadap program makan bergizi gratis (MBG). Hal ini dilakukan usai munculnya kasus diare massal yang terjadi pada puluhan siswa dan guru di SMPN 5 Rembang.
Diketahui, pada Rabu, 5 Agustus 2026 kemarin sebanyak 94 siswa SMPN 5 Rembang mengajukan izin tidak berangkat ke sekolah karena mengalami sakit akibat diare. Hal serupa juga terjadi pada tujuh guru dan empat pegawai tata usaha (TU).
Pemkab Rembang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), mengungkap berdasarkan hasil pemeriksaan awal kejadian ini menunjukkan adanya sejumlah aspek yang perlu diperbaiki, terutama kedisiplinan penjamah pangan dalam menerapkan standar higiene dan sanitasi.
Sub Koordinator Lingkungan Kesehatan Kerja dan Kesehatan Olahraga Dinkes Rembang, Al Furqon, mengatakan tim melakukan investigasi ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mondoteko 3, sebagai penyalur MBG, sehari setelah laporan diterima.
“Dari hasil pemeriksaan lapangan, hal yang perlu ditingkatkan oleh pihak SPPG adalah kedisiplinan para penjamah pangan dalam menerapkan higiene sanitasi,” ujarnya, Kamis, 6 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, kedisiplinan tersebut meliputi kebiasaan mencuci tangan sebelum mulai bekerja hingga penggunaan alat pelindung diri (APD) secara lengkap, seperti masker, sarung tangan, celemek (apron), dan penutup kepala selama proses pengolahan makanan.
Puluhan Siswa-Guru SMPN 5 Rembang Tak Masuk Sekolah Akibat Diare, Ada Apa?
Menurut Al Furqon, penerapan higiene dan sanitasi menjadi faktor penting untuk menjaga kualitas makanan agar tetap aman dikonsumsi oleh para siswa penerima manfaat program MBG.
Selain itu, tim Dinkes juga menemukan perlunya peningkatan kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) pada setiap tahapan pengolahan makanan.
“Kelengahan atau tidak dipatuhinya SOP tentu akan berakibat pada tidak terpenuhinya persyaratan keamanan pangan,” jelasnya.
Sebagai bagian dari investigasi, Dinkes Rembang turut mengambil sampel makanan dan air untuk diperiksa di laboratorium. Namun hingga saat ini hasil uji laboratorium masih dalam proses sehingga belum dapat disimpulkan penyebab pasti dugaan kasus diare tersebut.
“Hasil investigasi terkait sampel ini belum bisa kami berikan karena masih diperiksa di laboratorium,” katanya.
Al Furqon menambahkan, seluruh hasil pemeriksaan lapangan beserta rekomendasi perbaikan telah disampaikan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Koordinator Wilayah Kabupaten Rembang yang mendampingi proses investigasi.
“Kami sudah memberikan rekomendasi hasil pemeriksaan. Selanjutnya BGN memiliki standar dan mekanisme sendiri untuk menindaklanjuti rekomendasi tersebut,” pungkasnya.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Tia















