KUDUS, Beritajateng.id – Museum Patiayam Kabupaten Kudus resmi naik akreditasi dari tipe C menjadi tipe B. Penghargaan ini diraih setelah Kementerian Kebudayaan menetapkan hasil evaluasi tahunan pada 30 Desember 2025.
Capaian ini menempatkan Museum Patiayam sejajar dengan Museum Kretek yang sebelumnya telah lebih dulu berstatus tipe B.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus, Arief Zuli Tanjung, mengungkap proses peningkatan akreditasi telah diupayakan sejak tahun sebelumnya.
Ia menuturkan evaluasi museum ini dilakukan secara rutin setiap tahun dengan berbagai indikator penilaian.
“Sejak tahun lalu kami sudah mengajukan peningkatan. Museum Patiayam sebenarnya sudah terakreditasi tipe C, lalu kami ajukan lagi untuk naik kelas,” ujarnya, baru-baru ini.
Keberhasilan tersebut, lanjut Arief, tidak lepas dari pembenahan sarana dan prasarana dasar yang selama ini menjadi catatan evaluator. Pada 2025, sejumlah fasilitas penunjang berhasil dilengkapi, termasuk melalui bantuan langsung dari pemerintah pusat.
“Alhamdulillah tahun kemarin sudah bisa kita penuhi. Bahkan ada bantuan fisik dari Kementerian Kebudayaan,” katanya.
Salah satu fasilitas yang dianggap krusial ialah pembangunan musala bagi pengunjung. Sebelumnya, ketiadaan tempat ibadah sempat menjadi kendala dalam penilaian kenyamanan layanan museum.
“Di Patiayam itu problemnya memang tidak ada musala. Kemarin dari Kementerian Kebudayaan memberikan hibah pembangunan musala,” jelasnya.
Selain infrastruktur, peningkatan mutu sumber daya manusia juga menjadi perhatian. Disbudpar menargetkan tenaga profesional museum seperti kurator dan edukator memperoleh sertifikasi agar pelayanan edukasi semakin optimal.
“SDM harus kita siapkan. Kurator dan edukator perlu disertifikasi dan terus diberi pelatihan,” tambah Arief.
Ke depan, tantangan berikutnya adalah menuju akreditasi tipe A, level tertinggi dalam penilaian museum nasional. Ia mengungkap Kementerian Kebudayaan memberi penekanan khusus pada pengembangan museum berbasis digital.
“Evaluasi terakhir menekankan digitalisasi. Museum harus mulai digital, baik koleksi maupun tata pamernya,” ujarnya.
Pembaruan tata pamer juga dinilai penting agar pengunjung mendapatkan pengalaman yang lebih interaktif sekaligus edukatif.
Dengan status baru ini, Museum Patiayam diharapkan mampu memperkuat posisinya sebagai pusat edukasi sejarah purbakala sekaligus destinasi wisata budaya unggulan di Kudus.
“Untuk menuju tipe A tentu harus lebih meningkat lagi, terutama pada digitalisasi dan tata pamer,” pungkasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















